Kamis, 17 Mei 2012

Model Pembelajaran Matematika

MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION
PADA MATERI SEGIEMPAT DAN SEGITIGA
By :  Dina Renita

PENDAHULUAN
“Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan pelatihan. Artinya tujuan kegiatan belajar ialah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap, bahkan meliputi segenap aspek pribadi” (Ahmadi, 2005: 17). Hasil dari kegiatan belajar mengajar tercermin dalam perubahan perilaku yang terlihat dari diri siswa.

“Proses belajar mengajar adalah suatu aspek dari lingkungan sekolah yang terorganisasi” (Ahmadi, 2005: 33). Lingkungan ini diatur serta diawasi agar kegiatan belajar tersebut terarah sesuai tujuan pendidikan. Lingkungan belajar yang baik adalah lingkungan yang menantang dan merangsang para siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan serta dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
Di dalam proses belajar mengajar yang sangat berperan adalah seorang guru. Guru harus memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pendidik dan pengajar. Proses pembelajaran memerlukan perencanaan yang sistematis agar hasil belajar yang diharapkan akan lebih baik. Guru harus dapat memilih suatu model, strategi dan metode yang tepat sehingga siswa dapat mengerti tujuan yang ingin disampaikan guru kepada mereka. Dengan model, strategi dan metode belajar yang tepat maka diharapkan proses belajar mengaja dapat berlangsung sesuai dengan yang diharapkan, khususnya pada pelajaran matematika yang merupakan ilmu pasti yang menuntut pemahaman dan ketekunan berlatih.
Matematika merupakan pelajaran yang dianggap sulit dan kurang disukai oleh siswa. Siswa beranggapan pelajaran matematika itu tidak diperlukan dalam kehidupan nyata, sehingga mereka menjadi malas untuk belajar matematika. Hal ini bisa dilihat dari nilai matematika yang selalu lebih rendah dibandingkan dengan pelajaran lain. Rendahnya minat belajar siswa terhadap pelajaran matematika mengakibatkan rendah pula pada hasil belajarnya. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini adalah kurang menariknya proses belajar mengajar yang terjadi di dalam kelas.
Salah satu cara untuk meningkatkan minat belajar siswa dan diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan merubah kondisi atau lingkungan belajar sehingga lebih menyenangkan bagi siswa, seperti yang dikemukakan oleh Ahmadi (2005: 33). Salah satu faktor yang mendukung kondisi belajar di dalam suatu kelas adalah proses belajar mengajar yang berisi serangkaian peristiwa belajar yang dilakukan oleh kelompok-kelompok siswa. Salah satu model pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan minat belajar dan keaktifan siswa adalah model pembelajaran Group Investigation (Grup Penyelidikan).
Model pembelajaran Group Investigation ini merupakan model pembelajaran kooperatif yang melibatkan seluruh siswa untuk mengembangkan sikap sosial dan belajar bersama teman sekelompoknya dalam berbagai sikap positif. Menurut Trianto (2007: 59), pada model pembelajaran Group Investigation ini siswa terlibat dalam perencanaan baik topik yang dipelajari dan bagaimana jalannya penyelidikan mereka. Selain itu model pembelajaran ini juga mengajar siswa keterampilan komunikasi dan proses kelompok yang baik. Selanjutnya model pembelajaran ini menyiapkan siswa dengan lingkup studi yang luas dan berbagai pengalaman belajar untuk memberikan tekanan pada aktivitas positif para siswa (Krismanto, 2003: 15).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan model pembelajaran Group Investigation, pembelajaran akan lebih menarik bagi siswa, dan diharapkan dapat meningkatkan minat dan keaktifan siswa terhadap pelajaran matematika. Serta secara tidak langsung juga akan bepengaruh terhadap hasil belajar mereka.

PEMBAHASAN
1. Belajar
Dari keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan tergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai peserta didik.
Menurut Slameto (2003: 2), “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.” Pendapat yang sama dikemukakan oleh Winkell (1996: 53), “Belajar adalah aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi yang aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas.” Menurut Ahmadi (2005: 17), “Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan pelatihan. Artinya tujuan kegiatan belajar ialah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap, bahkan meliputi segenap aspek pribadi.”
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya. Perubahan tersebut tidak hanya menyangkut pengetahuan dan pemahaman, tetapi juga dalam bentuk kecakapan, keterampilan, sikap, minat, dan seluruh aspek pribadi.

2. Model Pembelajaran
Model pembelajaran menurut Joyce (dalam Trianto, 2007: 5) adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembeajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. Selanjutnya Joyce menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarahkan kita ke dalam mendesain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak (dalam Trianto, 2007: 5) bahwa model pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi guru untuk mengajar.
Menurut Depdiknas (2005: 3), “Model pembelajaran merupakan suatu konsepsi untuk mengajar suatu materi dalam mencapai tujuan tertentu. Dalam model mencakup strategi, pendekatan, metode maupun teknik.”
Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus (Depdiknas, 2005: 4) yaitu:
1.      rasional teoritik yang logis yang disusun oleh penciptanya,
2.      tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
3.      tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil, dan
4.      lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.
“Dalam mengajarkan suatu pokok bahasan (materi) tertentu harus dipilih model pembelajaran yang paling sesuai dengan tujuan yang akan dicapai” (Trianto, 2007: 9). Oleh karena itu dalam memilih suatu model pembelajaran harus memiliki pertimbangan, misalnya materi pelajaran, tingkat perkembangan kognitif siswa, dan sarana atau fasilitas yang tersedia, sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola atau suatu konsepsi yang digunakan sebagai pedoman unutk mengajar suatu materi agar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai. Dalam memilih suatu model pembelajaran harus mempertimbangkan materi, tingkat perkembangan kognitif siswa, sarana atau fasilitas, dan lain-lain.

3. Model Pembelajaran Group Investigation
Model pembelajaran Group Investigation atau Investigasi Kelompok merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks (Trianto, 2007: 59). Pada model pembelajaran ini siswa terlibat dalam perencanaan baik topik yang dipelajari dan bagaimana jalannya penyelidikan mereka. Selain itu model pembelajaran ini juga mengajar siswa keterampilan komunikasi dan proses kelompok yang baik.
Menurut Krismanto (2003: 15), “Model pembelajaran Group Investigation atau Grup Penyelidikan ini menyiapkan siswa dengan lingkup studi yang luas dan berbagai pengalaman belajar untuk memberikan tekanan pada aktifitas positif para siswa.”
Ada empat karakteristik pada model pembelajaran ini (Krismanto, 2003: 15), yaitu:
1.      Kelas dibagi ke dalam sejumlah  kelompok (grup).
2.      Kelompok siswa dihadapkan pada topik dengan berbagai aspek untuk meningkatkan daya kuriositas (keingintahuan) dan saling ketergantungan yang positif di antara mereka.
3.      Di dalam kelompoknya siswa terlibat dalam komunikasi aktif untuk meningkatkan keterampilan cara belajar.
4.      Guru bertindak selaku sumber belajar dan pimpinan tak langsung, memberikan arah dan klarifikasi hanya jika diperlukan, dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Langkah-langkah pelaksanaan model investigasi kelompok meliputi enam fase (Sharan dkk, 1984, dalam Trianto, 2007: 59) yaitu:
a.       Memilih Topik
Siswa memilih subtopik khusus di dalam suatu daerah masalah umum yang biasanya ditetapkan oleh guru. Selanjutnya siswa diorganisasikan menjadi dua sampai enam anggota tiap kelompok menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi tugas. Komposisi kelompok hendaknya heterogen secara akademis maupun etnis.
b.      Perencanaan Kooperatif
Siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran, tugas dan tujuan khusus yang konsisten dengan subtopik yang telah dipilih pada tahap pertama.
c.       Implementasi
Siswa menerapkan rencana yang telah mereka kembangkan di dalam tahap kedua. Kegiatan pembelajaran hendaknya melibatkan ragam aktivitas dan keterampilan yang luas dan hendaknya mengarahkan siswa kepada jenis-jenis sumber belajar yang berbeda baik di dalam atau di luar sekolah. Guru secara ketat mengikuti kemajuan tiap kelompok dan menawarkan bantuan bila diperlukan.
d.      Analisis dan Sintesis
Siswa menganalisis dan mensintesis informasi yang diperoleh pada tahap ketiga dan merencanakan bagaimana informasi tersebut diringkas dan disajikan dengan cara yang menarik sebagai bahan untuk dipresentasikan kepada seluruh kelas.
e.       Presentasi Hasil Final
Beberapa atau semua kelompok menyajikan hasil penyelidikannya dengan cara yang menarik kepada seluruh kelas, dengan tujuan agar siswa yang lain saling terlibat satu sama lain dalam pekerjaan mereka dan memperoleh perspektif luas pada topik itu. Presentasi dikoordinasi oleh guru.
f.       Evaluasi
Dalam hal kelompok-kelompok menangani aspek yang berbeda dari topik yang sama, siswa dan guru mengevaluasi tiap kontribusi kelompok terhadap kerja kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi yang dilakukan dapat berupa penilaian individual atau kelompok.


4. Aktivitas Belajar Siswa
Aktivitas merupakan prinsip atau azas yang sangat penting di dalam interaksi belajar mengajar. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas (Sardiman, 2007:95). Dalam diri masing-masing siswa terdapat “prinsip aktif” yakni keinginan berbuat dan bekerja sendiri. Prinsip aktif mengendalikan tingkah lakunya. Pembelajaran perlu mengarahkan tingkah laku menuju ke tingkat perkembangan yang diharapkan.
Pendidikan modern lebih menitikberatkan pada aktivitas sejati, dimana siswa belajar sambil bekerja. Dengan bekerja, siswa memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan serta perilaku lainnya, termasuk sikap dan nilai. Sistem pembelajaran dewasa ini sangat menekankan pada pendayagunaan asas keaktifan (aktivitas) dalam proses belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Menurut Diedrich (dalam Hamalik, 1994:90) jenis-jenis aktivitas siswa dapat digolongkan sebagai berikut:
a.       Kegiatan-kegiatan visual: membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, mengamati orang lain bekerja, atau bermain.
b.      Kegiatan-kegiatan lisan (oral): mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, berwawancara, diskusi.
c.       Kegiatan-kegiatan mendengarkan: mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan instrumen musik, mendengarkan siaran radio.
d.      Kegiatan-kegiatan menulis: menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat sketsa atau rangkuman, mengerjakan tes, mengisi angket.
e.       Kegiatan-kegiatan menggambar: menggambar, membuat grafik, diagram, peta, pola.
f.       Kegiatan-kegiatan metrik: melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan (simulasi), menari, berkebun.
g.      Kegiatan-kegiatan mental: merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, menemukan hubungan-hubungan, membuat keputusan.
h.      Kegiatan-kegiatan emosional: minat, membedakan, berani, tenang, dan sebagainya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa dapat dilihat dari perilaku siswa yang muncul selama proses pembelajaran.

5. Hasil Belajar Siswa
Setiap proses belajar mengajar keberhasilannya diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang dicapai siswa (Sudjana, 1987:45). Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Seperti dikemukakan oleh Clark (dalam Sudjana, 1987:39) bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan. Salah satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar di sekolah, ialah kualitas pengajaran. Yang dimaksud dengan kualitas pengajaran ialah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan pembelajaran. Oleh sebab itu hasil belajar siswa di sekolah dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pengajaran. Hasil belajar yang baik hanya dapat dicapai melalui proses pembelajaran yang efektif dan produktif. Jika proses belajar mengajar tidak optimal, maka sulit untuk mencapai hasil belajar  yang baik.
Untuk mengukur keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat dilaksanakan suatu evaluasi. Evaluasi hasil belajar adalah keseluruhan pengukuran (pengumpulan data dan informasi), pengolahan, penafsiran dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar mengajar (Hamalik, 1994:159).
Alat untuk mengukur evaluasi adalah satunya adalah tes. Tes yang dimaksud di sini adalah untuk mengukur kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Hasil dari tes disajikan dalam bentuk angka atau nilai tertentu. Nilai yang diperoleh dalam penelitian ini adalah hasil belajar yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar. Untuk mengetahui bahwa suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil yaitu apabila Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditetapkan dapat tercapai.

6. Materi Segiempat dan Segitiga
   Materi segiempat dan segitiga adalah materi yang diajarkan pada kelas VII semester II. Dari pengalaman penulis mengajarkan materi ini, diketahui bahwa materi ini merupakan salah satu materi yang membosankan bagi siswa, bahkan dianggap kurang menarik, karena materi ini banyak membahas tentang sifat-sifat dari segiempat dan segitiga yang merupakan lanjutan dari materi yang didapat oleh siswa di SD.
    Hal ini tentunya memberikan pengaruh terhadap hasil belajar mereka pada materi ini. Padahal materi segiempat dan segitiga ini sangat diperlukan, karena akan berkelanjutan pada materi bangun ruang.
    Materi Segiempat dan segitiga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dibahas dan selama ini, metode ataupun model yang digunakan selalu monoton dan kurang menarik. Hasil yang diharapkan yang berupa kemampuan siswa untuk memahami konsep segiempat dan segitiga terkadang malah tidak tercapai. Untuk itulah diperlukan suatu  model ataupun metode yang dapat membangkitkan minat siswa untuk memahami materi ini.
   Pada pembelajaran materi segiempat dan segitiga ini dimulai dengan mengingatkan siswa kepada bangun-bangun datar yang merupakan pengetahuan prasyarat untuk mempelajari sifat-sifat dari bangun datar tersebut. Selanjutnya pembelajaran didesain sedemikian rupa sehingga siswa  termotivasi dan mau berpatisipasi aktif dalam belajar.
Model pembelajaran Group Investigation atau Investigasi Kelompok merupakan model pembelajaran kooperatif yang diharapkan dapat menarik minat siswa untuk belajar materi segiempat dan segitiga. Model pembelajaran ini mengajar siswa keterampilan berkomunikasi dan bekerja dalam kelompok dengan baik. Langkah-langkah pada pembelajaran ini adalah diawali dengan memilih topik, yang dalam hal ini bangun-bangun segiempat dan segitiga yang masing-masing kelompok berbeda. Selanjutnya kelompok tersebut merencanakan penyelidikan terhadap materi yang mereka dapatkan.
Tahap yang paling penting adalah siswa mengimplementasikan atau menerapkan rencana yang telah mereka buat. Pada pembelajaran ini siswa menyelidiki sifat-sifat segiempat dan segitiga dengan beragam aktifitas. Di sini peran seorang guru sangat diperlukan untuk membimbing siswa dalam beraktifitas dan berdiskusi dalam kelompok.
Tahap selanjutnya, setiap kelompok mengalisis hasil kerja kelompok mereka dan membuat suatu kesimpulan dari hasil penyelidikan kelompok. Setelah setiap kelompok membuat kesimpulan, mereka diminta untuk menyajikan atau mempresentasikan hasil kerja kelompok mereka, dan kelompok-kelompok yang lain ikut menanggapi. Di sini seorang guru berperan memandu jalannya diskusi kelas. Dari diskusi kelas yang dilaksanakan diharapkan siswa mendapatkan informasi yang banyak, karena masing-masing kelompok membahas aspek yang berbeda.
         Pada tahap akhir, guru memberikan evaluasi, baik berupa penilaian kelompok maupun individual. Penilaian disini bukan hanya melihat hasil akhir dari pekerjaan siswa, tetapi juga melihat proses pembelajaran yang dilalui oleh siswa. Dari pembelajaran yang dibahas diharapkan adanya peningkatan keaktifan siswa dalam belajar materi segiempat dan segitiga yang tentunya akan berpengaruh terhadap hasil belajar mereka. Pada pembelajaran ini guru juga mendapatkan suatu pengalaman untuk merubah pembelajaran yang selama ini dianggap membosankan dan kurang menarik menjadi pembelajaran yang penuh aktifitas dan menarik serta bermakna.

PENUTUP
   Salah satu cara untuk meningkatkan minat belajar siswa dan  dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan merubah kondisi atau lingkungan belajar sehingga lebih menyenangkan bagi siswa. Melalui model pembelajaran Group Investigation, diharapkan siswa dapat termotivasi untuk lebih aktif dalam belajar dan membangun sendiri pengetahuan mereka serta menemukan langkah-langkah dalam mencari penyelesaian dari suatu materi. Dengan demikian pembelajaran akan menjadi lebih menarik, lebih menyenangkan dan bermakna.
   Guru diharapkan berani mengadakan perubahan di dalam kelasnya, dengan memberikan model-model pembelajaran yang dapat membangkitkan motivasi siswa untuk belajar. Guru diharapkan dapat mendesain pembelajaran sehingga menjadi lebih menarik bagi siswa. Salah satunya model pembelajaran tersebut  adalah model pembelajaran Group Investigation.





DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. 2005. Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Matematika.

Hamalik, Oemar. 1994. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Krismanto, Al. 2003. Beberapa Teknik, Model dan Strtategi dalam Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Dirjen Dikdasmen PPPG Matematika.

Kunandar. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Purwanto, Ngalim. 1990. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sardiman. 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Slameto. 1988. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Sudjana, Nana. 1987. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Trianto.  2007.  Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.

Winkell. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo.


MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION
PADA MATERI SEGIEMPAT DAN SEGITIGA

PENDAHULUAN
“Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan pelatihan. Artinya tujuan kegiatan belajar ialah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap, bahkan meliputi segenap aspek pribadi” (Ahmadi, 2005: 17). Hasil dari kegiatan belajar mengajar tercermin dalam perubahan perilaku yang terlihat dari diri siswa.
“Proses belajar mengajar adalah suatu aspek dari lingkungan sekolah yang terorganisasi” (Ahmadi, 2005: 33). Lingkungan ini diatur serta diawasi agar kegiatan belajar tersebut terarah sesuai tujuan pendidikan. Lingkungan belajar yang baik adalah lingkungan yang menantang dan merangsang para siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan serta dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
Di dalam proses belajar mengajar yang sangat berperan adalah seorang guru. Guru harus memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pendidik dan pengajar. Proses pembelajaran memerlukan perencanaan yang sistematis agar hasil belajar yang diharapkan akan lebih baik. Guru harus dapat memilih suatu model, strategi dan metode yang tepat sehingga siswa dapat mengerti tujuan yang ingin disampaikan guru kepada mereka. Dengan model, strategi dan metode belajar yang tepat maka diharapkan proses belajar mengaja dapat berlangsung sesuai dengan yang diharapkan, khususnya pada pelajaran matematika yang merupakan ilmu pasti yang menuntut pemahaman dan ketekunan berlatih.
Matematika merupakan pelajaran yang dianggap sulit dan kurang disukai oleh siswa. Siswa beranggapan pelajaran matematika itu tidak diperlukan dalam kehidupan nyata, sehingga mereka menjadi malas untuk belajar matematika. Hal ini bisa dilihat dari nilai matematika yang selalu lebih rendah dibandingkan dengan pelajaran lain. Rendahnya minat belajar siswa terhadap pelajaran matematika mengakibatkan rendah pula pada hasil belajarnya. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini adalah kurang menariknya proses belajar mengajar yang terjadi di dalam kelas.
Salah satu cara untuk meningkatkan minat belajar siswa dan diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan merubah kondisi atau lingkungan belajar sehingga lebih menyenangkan bagi siswa, seperti yang dikemukakan oleh Ahmadi (2005: 33). Salah satu faktor yang mendukung kondisi belajar di dalam suatu kelas adalah proses belajar mengajar yang berisi serangkaian peristiwa belajar yang dilakukan oleh kelompok-kelompok siswa. Salah satu model pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan minat belajar dan keaktifan siswa adalah model pembelajaran Group Investigation (Grup Penyelidikan).
Model pembelajaran Group Investigation ini merupakan model pembelajaran kooperatif yang melibatkan seluruh siswa untuk mengembangkan sikap sosial dan belajar bersama teman sekelompoknya dalam berbagai sikap positif. Menurut Trianto (2007: 59), pada model pembelajaran Group Investigation ini siswa terlibat dalam perencanaan baik topik yang dipelajari dan bagaimana jalannya penyelidikan mereka. Selain itu model pembelajaran ini juga mengajar siswa keterampilan komunikasi dan proses kelompok yang baik. Selanjutnya model pembelajaran ini menyiapkan siswa dengan lingkup studi yang luas dan berbagai pengalaman belajar untuk memberikan tekanan pada aktivitas positif para siswa (Krismanto, 2003: 15).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan model pembelajaran Group Investigation, pembelajaran akan lebih menarik bagi siswa, dan diharapkan dapat meningkatkan minat dan keaktifan siswa terhadap pelajaran matematika. Serta secara tidak langsung juga akan bepengaruh terhadap hasil belajar mereka.

PEMBAHASAN
1. Belajar
Dari keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan tergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai peserta didik.
Menurut Slameto (2003: 2), “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.” Pendapat yang sama dikemukakan oleh Winkell (1996: 53), “Belajar adalah aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi yang aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas.” Menurut Ahmadi (2005: 17), “Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan pelatihan. Artinya tujuan kegiatan belajar ialah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap, bahkan meliputi segenap aspek pribadi.”
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya. Perubahan tersebut tidak hanya menyangkut pengetahuan dan pemahaman, tetapi juga dalam bentuk kecakapan, keterampilan, sikap, minat, dan seluruh aspek pribadi.

2. Model Pembelajaran
Model pembelajaran menurut Joyce (dalam Trianto, 2007: 5) adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembeajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. Selanjutnya Joyce menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarahkan kita ke dalam mendesain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak (dalam Trianto, 2007: 5) bahwa model pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi guru untuk mengajar.
Menurut Depdiknas (2005: 3), “Model pembelajaran merupakan suatu konsepsi untuk mengajar suatu materi dalam mencapai tujuan tertentu. Dalam model mencakup strategi, pendekatan, metode maupun teknik.”
Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus (Depdiknas, 2005: 4) yaitu:
1.      rasional teoritik yang logis yang disusun oleh penciptanya,
2.      tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
3.      tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil, dan
4.      lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.
“Dalam mengajarkan suatu pokok bahasan (materi) tertentu harus dipilih model pembelajaran yang paling sesuai dengan tujuan yang akan dicapai” (Trianto, 2007: 9). Oleh karena itu dalam memilih suatu model pembelajaran harus memiliki pertimbangan, misalnya materi pelajaran, tingkat perkembangan kognitif siswa, dan sarana atau fasilitas yang tersedia, sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola atau suatu konsepsi yang digunakan sebagai pedoman unutk mengajar suatu materi agar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai. Dalam memilih suatu model pembelajaran harus mempertimbangkan materi, tingkat perkembangan kognitif siswa, sarana atau fasilitas, dan lain-lain.

3. Model Pembelajaran Group Investigation
Model pembelajaran Group Investigation atau Investigasi Kelompok merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks (Trianto, 2007: 59). Pada model pembelajaran ini siswa terlibat dalam perencanaan baik topik yang dipelajari dan bagaimana jalannya penyelidikan mereka. Selain itu model pembelajaran ini juga mengajar siswa keterampilan komunikasi dan proses kelompok yang baik.
Menurut Krismanto (2003: 15), “Model pembelajaran Group Investigation atau Grup Penyelidikan ini menyiapkan siswa dengan lingkup studi yang luas dan berbagai pengalaman belajar untuk memberikan tekanan pada aktifitas positif para siswa.”
Ada empat karakteristik pada model pembelajaran ini (Krismanto, 2003: 15), yaitu:
1.      Kelas dibagi ke dalam sejumlah  kelompok (grup).
2.      Kelompok siswa dihadapkan pada topik dengan berbagai aspek untuk meningkatkan daya kuriositas (keingintahuan) dan saling ketergantungan yang positif di antara mereka.
3.      Di dalam kelompoknya siswa terlibat dalam komunikasi aktif untuk meningkatkan keterampilan cara belajar.
4.      Guru bertindak selaku sumber belajar dan pimpinan tak langsung, memberikan arah dan klarifikasi hanya jika diperlukan, dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Langkah-langkah pelaksanaan model investigasi kelompok meliputi enam fase (Sharan dkk, 1984, dalam Trianto, 2007: 59) yaitu:
a.       Memilih Topik
Siswa memilih subtopik khusus di dalam suatu daerah masalah umum yang biasanya ditetapkan oleh guru. Selanjutnya siswa diorganisasikan menjadi dua sampai enam anggota tiap kelompok menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi tugas. Komposisi kelompok hendaknya heterogen secara akademis maupun etnis.
b.      Perencanaan Kooperatif
Siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran, tugas dan tujuan khusus yang konsisten dengan subtopik yang telah dipilih pada tahap pertama.
c.       Implementasi
Siswa menerapkan rencana yang telah mereka kembangkan di dalam tahap kedua. Kegiatan pembelajaran hendaknya melibatkan ragam aktivitas dan keterampilan yang luas dan hendaknya mengarahkan siswa kepada jenis-jenis sumber belajar yang berbeda baik di dalam atau di luar sekolah. Guru secara ketat mengikuti kemajuan tiap kelompok dan menawarkan bantuan bila diperlukan.
d.      Analisis dan Sintesis
Siswa menganalisis dan mensintesis informasi yang diperoleh pada tahap ketiga dan merencanakan bagaimana informasi tersebut diringkas dan disajikan dengan cara yang menarik sebagai bahan untuk dipresentasikan kepada seluruh kelas.
e.       Presentasi Hasil Final
Beberapa atau semua kelompok menyajikan hasil penyelidikannya dengan cara yang menarik kepada seluruh kelas, dengan tujuan agar siswa yang lain saling terlibat satu sama lain dalam pekerjaan mereka dan memperoleh perspektif luas pada topik itu. Presentasi dikoordinasi oleh guru.
f.       Evaluasi
Dalam hal kelompok-kelompok menangani aspek yang berbeda dari topik yang sama, siswa dan guru mengevaluasi tiap kontribusi kelompok terhadap kerja kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi yang dilakukan dapat berupa penilaian individual atau kelompok.


4. Aktivitas Belajar Siswa
Aktivitas merupakan prinsip atau azas yang sangat penting di dalam interaksi belajar mengajar. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas (Sardiman, 2007:95). Dalam diri masing-masing siswa terdapat “prinsip aktif” yakni keinginan berbuat dan bekerja sendiri. Prinsip aktif mengendalikan tingkah lakunya. Pembelajaran perlu mengarahkan tingkah laku menuju ke tingkat perkembangan yang diharapkan.
Pendidikan modern lebih menitikberatkan pada aktivitas sejati, dimana siswa belajar sambil bekerja. Dengan bekerja, siswa memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan serta perilaku lainnya, termasuk sikap dan nilai. Sistem pembelajaran dewasa ini sangat menekankan pada pendayagunaan asas keaktifan (aktivitas) dalam proses belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Menurut Diedrich (dalam Hamalik, 1994:90) jenis-jenis aktivitas siswa dapat digolongkan sebagai berikut:
a.       Kegiatan-kegiatan visual: membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, mengamati orang lain bekerja, atau bermain.
b.      Kegiatan-kegiatan lisan (oral): mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, berwawancara, diskusi.
c.       Kegiatan-kegiatan mendengarkan: mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan instrumen musik, mendengarkan siaran radio.
d.      Kegiatan-kegiatan menulis: menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat sketsa atau rangkuman, mengerjakan tes, mengisi angket.
e.       Kegiatan-kegiatan menggambar: menggambar, membuat grafik, diagram, peta, pola.
f.       Kegiatan-kegiatan metrik: melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan (simulasi), menari, berkebun.
g.      Kegiatan-kegiatan mental: merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, menemukan hubungan-hubungan, membuat keputusan.
h.      Kegiatan-kegiatan emosional: minat, membedakan, berani, tenang, dan sebagainya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa dapat dilihat dari perilaku siswa yang muncul selama proses pembelajaran.

5. Hasil Belajar Siswa
Setiap proses belajar mengajar keberhasilannya diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang dicapai siswa (Sudjana, 1987:45). Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Seperti dikemukakan oleh Clark (dalam Sudjana, 1987:39) bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan. Salah satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar di sekolah, ialah kualitas pengajaran. Yang dimaksud dengan kualitas pengajaran ialah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan pembelajaran. Oleh sebab itu hasil belajar siswa di sekolah dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pengajaran. Hasil belajar yang baik hanya dapat dicapai melalui proses pembelajaran yang efektif dan produktif. Jika proses belajar mengajar tidak optimal, maka sulit untuk mencapai hasil belajar  yang baik.
Untuk mengukur keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat dilaksanakan suatu evaluasi. Evaluasi hasil belajar adalah keseluruhan pengukuran (pengumpulan data dan informasi), pengolahan, penafsiran dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar mengajar (Hamalik, 1994:159).
Alat untuk mengukur evaluasi adalah satunya adalah tes. Tes yang dimaksud di sini adalah untuk mengukur kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Hasil dari tes disajikan dalam bentuk angka atau nilai tertentu. Nilai yang diperoleh dalam penelitian ini adalah hasil belajar yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar. Untuk mengetahui bahwa suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil yaitu apabila Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditetapkan dapat tercapai.

6. Materi Segiempat dan Segitiga
   Materi segiempat dan segitiga adalah materi yang diajarkan pada kelas VII semester II. Dari pengalaman penulis mengajarkan materi ini, diketahui bahwa materi ini merupakan salah satu materi yang membosankan bagi siswa, bahkan dianggap kurang menarik, karena materi ini banyak membahas tentang sifat-sifat dari segiempat dan segitiga yang merupakan lanjutan dari materi yang didapat oleh siswa di SD.
    Hal ini tentunya memberikan pengaruh terhadap hasil belajar mereka pada materi ini. Padahal materi segiempat dan segitiga ini sangat diperlukan, karena akan berkelanjutan pada materi bangun ruang.
    Materi Segiempat dan segitiga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dibahas dan selama ini, metode ataupun model yang digunakan selalu monoton dan kurang menarik. Hasil yang diharapkan yang berupa kemampuan siswa untuk memahami konsep segiempat dan segitiga terkadang malah tidak tercapai. Untuk itulah diperlukan suatu  model ataupun metode yang dapat membangkitkan minat siswa untuk memahami materi ini.
   Pada pembelajaran materi segiempat dan segitiga ini dimulai dengan mengingatkan siswa kepada bangun-bangun datar yang merupakan pengetahuan prasyarat untuk mempelajari sifat-sifat dari bangun datar tersebut. Selanjutnya pembelajaran didesain sedemikian rupa sehingga siswa  termotivasi dan mau berpatisipasi aktif dalam belajar.
Model pembelajaran Group Investigation atau Investigasi Kelompok merupakan model pembelajaran kooperatif yang diharapkan dapat menarik minat siswa untuk belajar materi segiempat dan segitiga. Model pembelajaran ini mengajar siswa keterampilan berkomunikasi dan bekerja dalam kelompok dengan baik. Langkah-langkah pada pembelajaran ini adalah diawali dengan memilih topik, yang dalam hal ini bangun-bangun segiempat dan segitiga yang masing-masing kelompok berbeda. Selanjutnya kelompok tersebut merencanakan penyelidikan terhadap materi yang mereka dapatkan.
Tahap yang paling penting adalah siswa mengimplementasikan atau menerapkan rencana yang telah mereka buat. Pada pembelajaran ini siswa menyelidiki sifat-sifat segiempat dan segitiga dengan beragam aktifitas. Di sini peran seorang guru sangat diperlukan untuk membimbing siswa dalam beraktifitas dan berdiskusi dalam kelompok.
Tahap selanjutnya, setiap kelompok mengalisis hasil kerja kelompok mereka dan membuat suatu kesimpulan dari hasil penyelidikan kelompok. Setelah setiap kelompok membuat kesimpulan, mereka diminta untuk menyajikan atau mempresentasikan hasil kerja kelompok mereka, dan kelompok-kelompok yang lain ikut menanggapi. Di sini seorang guru berperan memandu jalannya diskusi kelas. Dari diskusi kelas yang dilaksanakan diharapkan siswa mendapatkan informasi yang banyak, karena masing-masing kelompok membahas aspek yang berbeda.
         Pada tahap akhir, guru memberikan evaluasi, baik berupa penilaian kelompok maupun individual. Penilaian disini bukan hanya melihat hasil akhir dari pekerjaan siswa, tetapi juga melihat proses pembelajaran yang dilalui oleh siswa. Dari pembelajaran yang dibahas diharapkan adanya peningkatan keaktifan siswa dalam belajar materi segiempat dan segitiga yang tentunya akan berpengaruh terhadap hasil belajar mereka. Pada pembelajaran ini guru juga mendapatkan suatu pengalaman untuk merubah pembelajaran yang selama ini dianggap membosankan dan kurang menarik menjadi pembelajaran yang penuh aktifitas dan menarik serta bermakna.

PENUTUP
   Salah satu cara untuk meningkatkan minat belajar siswa dan  dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan merubah kondisi atau lingkungan belajar sehingga lebih menyenangkan bagi siswa. Melalui model pembelajaran Group Investigation, diharapkan siswa dapat termotivasi untuk lebih aktif dalam belajar dan membangun sendiri pengetahuan mereka serta menemukan langkah-langkah dalam mencari penyelesaian dari suatu materi. Dengan demikian pembelajaran akan menjadi lebih menarik, lebih menyenangkan dan bermakna.
   Guru diharapkan berani mengadakan perubahan di dalam kelasnya, dengan memberikan model-model pembelajaran yang dapat membangkitkan motivasi siswa untuk belajar. Guru diharapkan dapat mendesain pembelajaran sehingga menjadi lebih menarik bagi siswa. Salah satunya model pembelajaran tersebut  adalah model pembelajaran Group Investigation.





DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. 2005. Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Matematika.

Hamalik, Oemar. 1994. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Krismanto, Al. 2003. Beberapa Teknik, Model dan Strtategi dalam Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Dirjen Dikdasmen PPPG Matematika.

Kunandar. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Purwanto, Ngalim. 1990. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sardiman. 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Slameto. 1988. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Sudjana, Nana. 1987. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Trianto.  2007.  Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.

Winkell. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar