Selasa, 27 Maret 2012

Pendekatan Konstruktivisme dalam Pembelajaran Matematika


       Pendekatan  konstruktivisme dalam pembelajaran matematika adalah sebuah proses pembelajaran yang menganggap pengetahuan matematika siswa adalah serangkaian pengalaman siswa hasil bentukannya sendiri dengan lingkungannya.
       Menurut pandangan konstruktivis bahwa pengetahuan harus diperoleh siswa melalui kegiatan atau aktivitas, baik fisik maupun psikis. Melalui kegiatan atau aktivitas inilah siswa membangun pengetahuannya sendiri. Guru bertindak sebatas penyedia sarana belajar atau fasilitator, pembangkit dan pendorong minat belajar atau motivator, atau perancang pembelajaran.
       Ernest (1991:42), melihat matematika sebagai suatu konstruktivisme sosial yang memenuhi tiga premis sebagai berikut.
1.      The basis of mathematical knowledge is linguistic language, conventions and rulers, and language is a social constructions.
2.       Interpersonal social processes are required to turn an individual’s subjective mathematical knowledge, after publication, into accepted objective mathematical knowledge.
3.      Objectivity itself will be understood to be social.


         Pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungan. Guru yang konstruktivis  mampu dan mengerti tentang proses pembelajaran yang baik. Dalam proses pembelajaran yang baik, guru berperan memotivasi dan memfasilitasi  siswanya menemukan sendiri cara yang paling sesuai untuk memecahkan persoalan. Hal ini penting agar siswa memperoleh hasil yang maksimal.
         Mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi.
Menurut Driver & Oldam (Suparno, 1997) langkah pembelajaran   konstruktivisme yang dapat dikemukakan sebagai berikut.
1.      Orientasi. Siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi dalam mempelajari suatu pokok bahasan, kemudian siswa diberi kesempatan untuk mengadakan observasi terhadap apa yang akan dipelajari.
2.      Elicitasi. Siswa dibantu mengungkapkan idenya secara jelas dengan berdiskusi, menulis, membuat poster, dan lainnya. Artinya siswa diberi kesempatan untuk mediskusikan apa yang diobservasikan dalam bentuk tulisan, gambar atau poster.
3.      Re-strukturisasi ide.
                                     a.            Klarifikasi ide yang dikontraskan dengan ide-ide orang lain atau teman melalui diskusi atau melalui pengumpulan ide. Artinya melalui diskusi atau pengumpulan ide, siswa merekonstruksi gagasan-gagasan yang tidak cocok atau sebaliknya, menjadi lebih yakin bahwa gagasan tersebut cocok.
                                     b.            Membangun ide yang baru.
                                     c.            Mengevaluasi ide barunya dengan eksperimen.
4.      Penggunaan ide dalam banyak situasi.  Pengetahuan atau ide yang telah dibentuk oleh siswa perlu diaplikasikan pada bermacam-macam pada situasi yang dihadapi, agar  dapat  membuat  pengetahuan  siswa  lebih  lengkap  dan  rinci  dengan segala
pengecualiannya.
5.      Review, bagaimana bila ide itu berubah. Hal ini dapat terjadi apabila dalam aplikasi
pengetahuannya pada situasi yang dihadapi sehari-hari seseorang perlu merevisi.
        Menurut Hanafiah (2010), pendekatan konstruktivisme memiliki karakteristik sebagai berikut.
1.      Proses pembelajaran berpusat pada siswa, sehingga siswa mempunyai peluang untuk aktif dalam proses pembelajaran.
2.      Proses pembelajaran merupakan proses integrasi pengetahuan baru dengan pengetahuan lama yang dimiliki siswa.
3.      Berbagai pandangan yang berbeda diantara siswa dihargai dan sebagai tradisi dalam proses pembelajaran.
4.      Siswa didorong untuk menemukan berbagai kemungkinan dan mensintesiskan secara terintegrasi.
5.      Pembelajaran berbasis masalah dalam rangka mendorong siswa dalam proses pencarian yang lebih alami.
6.      Proses pembelajaran mendorong terjadinya koperatif dan kompetitif dikalangan siswa secara aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan.
7.      Proses pembelajaran dilakukan secara kontektual, yaitu siswa dihadapkan kedalam pengalaman nyata.      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar