Senin, 11 Mei 2015

PENINGKATAN KEAKTIFAN BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS XI IPA.6 SMAN 15 PALEMBANG MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TOPI PINTAR

        Latar Belakang
Proses pembelajaran merupakan proses yang kompleks. Setiap kata, pikiran, tindakan dan asosiasi sejauh mana kita mengubah lingkungan, presentasi dan rancangan pengajaran, sejauh itu pula proses berlangsung. Proses pembelajaran di sekolah sangat dipengaruhi oleh seorang guru, karena guru adalah planner, desainer, fasilitator, motivator dan eksekutor. Artinya pengaruh seorang guru sangatlah besar, guru harus mampu memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlihat dan berpengaruh kuat terhadap proses belajarnya. (Bobbi DePotter: 2001).

Sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang nomor 14 tahun 2005, tugas utama seorang guru, selain mendidik  adalah mengajar. Sebagai pengajar, guru dihadapkan pada tuntutan profesi untuk selalu melakukan perbaikan atas kekurangan dan meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas profesional. Karena yang dihadapi seorang guru adalah siswa, yang mempunyai perasaan, minat dan ketertarikan terhadap sesuatu selalu berubah-ubah. Tidak dapat dipungkiri, seorang guru belum tentu dapat menerapkan metode ataupun model pembelajaran yang sama untuk setiap kelas yang dipandunya.
Sekolah Menengah Atas Negeri 15 Palembang pada tahun pembelajaran 2014/2015 sempat menggunakan Kurikulum 2013 selama satu semester. Awal tahun 2015 kembali ke KTSP 2006, hal ini berakibat menurunnya motivasi pada diri siswa terutama pada penggunaan internet. Seiring dengan itu pula sarana dan prasarana yang menyangkut teknik komunikasi dan informatika (TIK) di sekolah menjadi kurang memadai, sehingga pembelajaran yang semula menggunakan media online “schoology” dan “quipperschool” tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Menyikapi permasalahan di atas, penulis berpendapat agar pembelajaran matematika tetap menarik , efektif dan efisien serta banyak disukai siswa, maka perlu menggunakan model pembelajaran yang sederhana tetapi menarik. Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dalam kelompok kecil, yang memungkinkan siswa saling membantu dalam memahami suatu konsep, memeriksa dan memperbaiki jawaban teman sebagai masukan serta kegiatan lain yang bertujuan untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Aktivitas pembelajaran kooperatif disamping menekankan pada kesadaran siswa belajar, memecahkan masalah dan mengaplikasikan pengetahuan, konsep serta keterampilan kepada teman lain, siswa akan merasa senang menyumbangkan pengetahuannya kepada teman atau anggota lain dalam kelompoknya. Oleh karena itu belajar kooperatif adalah saling menguntungkan antar siswa yang berkemampuan rendah, sedang dan siswa yang berkemampuan tinggi.
Struktur kooperatif dibandingkan dengan struktur kompetisi dan usaha individual, lebih menunjang komunikasi yang lebih efektif dan pertukaran informasi diantara siswa, saling membantu tercapainya hasil belajar yang baik, lebih banyak bimbingan perorangan, berbagi sumber diantara siswa, perasaan terlibat yang lebih besar, berkurangnya rasa takut akan gagal dan berkembangnya sikap saling mempercayai diantara para siswa. Trik dan teknik pembelajaran akan efektif bila disesuaikan dengan karakteristik siswa di kelas yang kita pandu.
Berdasarkan uraian di atas, penulis mencoba melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan Keaktifan Belajar Matematika Siswa Kelas XI IPA SMAN 15 Palembang  Melalui Pembelajaran Kooperatif Topi Pintar”
         Identifikasi Masalah
        Dalam pembelajaran matematika, masih banyak siswa yang sulit mengemukakan
        pendapatnwalaupun sebenarnya banyak yang mau ditanyakan, dikarenakan guru cenderung 
        masih menggunakan cara yang lama. Beberapa siswa sudah mengerjakan soal-soal sebelum 
        pembelajaran dimulai, namun siswa yang seperti ini kurang mau berbagi. Jadi siswa cenderung 
        bekerja sendiri-sendiri tanpa berkomunikasi dengan siswa yang lain, maupun dengan guru mata
        pelajaran. Ini berarti keaktifan siswa dapat dikatakan kurang.

       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah penerapan pembelajaran kooperatif topi pintar dapat meningkatkan keaktifan belajar matematika siswa Kelas  XI IPA.6 SMA Negeri 15 Palembang? 

Tujuan Penelitian
 Untuk meningkatkan keaktifan belajar matematika siswa Kelas XI IPA.6 SMA Negeri 15 Palembang melalui penerapan pembelajaran kooperatif topi pintar.
        Manfaat Penelitian
        Bagi Siswa: Menumbuhkan motivasi dan minat belajar siswa sehingga meningkatkan keaktifan 
                            dalam pembelajaran matematika.
        Bagi Guru: Merupakan salah satu alternatif untuk membangun kegiatan interaktif siswa dalam
                           pembelajaran matematika, sehingga dapat meningkatkan keaktifan siswa.
        Bagi Sekolah: Dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan acuan untuk memperkaya referensi
                           guru-guru yang lain dalam  melakukan penelitian.

   Keaktifan Belajar Siswa

Keaktifan berasal dari kata “aktif” yang artinya selalu berusaha, bekerja, dan belajar dengan sungguh-sungguh supaya mendapat kemajuan/prestasi yang gemilang.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, aktif diartikan sebagai giat. Keaktifan siswa berarti suatu usaha atau kerja yang dilakukan dengan giat oleh siswa yang menghasilkan perubahan dari tidak melakukan apa-apa menjadi melakukan sesuatu.
Ketika siswa hanya mendengarkan penjelasan guru saja, maka ia akan cepat lupa dengan informasi yang ia dengar. Karena belajar yang hanya mengandalkan indera pendengaran mempunyai kelemahan cepat lupa, padahal hasil belajar seharusnya disimpan dalam jangka waktu lama. Salah satu faktor yang menyebabkan informasi cepat dilupakan adalah faktor kelemahan otak manusia. Agar hasil belajar dapat disimpan dalam selang waktu yang panjang, maka siswa diharuskan memahami apa yang telah ia pelajari. Kenyataan ini, sesuai dengan kata-kata mutiara yang diberikan oleh seorang filosof dari Yunani, konfusius yang mengatakan:
Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya lihat, saya ingat
Apa yang saya lakukan saya paham
Berdasarkan ungkapan tersebut maka pembelajaran yang dilakukan oleh siswa harus memberikan pengalaman yang akan diingat dan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Khususnya pada mata pelajaran matematika yang merupakan dasar dari ilmu pengetahuan yang mengharuskan siswa berpikir kritis, logis, teoritis, rasional dan percaya diri. Keaktifan itu ada secara langsung seperti mengerjakan tugas, berdiskusi, mengumpulkan data, dan lain sebagainya. Bentuk keaktifan siswa dalam belajar salah satunya adalah pemusatan terhadap apa yang dijelaskan oleh guru, perenungan dan penerapan dalam penyelesaian masalah. Jadi, dalam pembelajaran, keaktifan siswa menjadi lebih dominan karena siswa lebih banyak melakukan aktivitas belajar. Aktivitas tidak hanya ditentukan oleh aktivitas fisik semata, tetapi juga ditentukan oleh aktivitas non fisik seperti mental, intelektual dan emosional.
Menurut Paul B. Dierich dalam Hamalik (2008) menyimpulkan terdapat 177 macam kegiatan peserta didik yang meliputi aktivitas jasmani dan aktivitas jiwa, antara lain: 1) Kegiatan-kegiatan visual: Membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain; 2) Kegiatan-kegiatan lisan (oral): Mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan interupsi; 3) Kegiatan-kegiatan mendengarkan: Mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengakan radio; 4) Kegiatan-kegiatan menulis: Menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, membuat rangkuman, mengerjakan tes, dan mengisi angket; 5)  Kegiatan-kegiatan menggambar: Menggambar, membuat grafik, chart, diagram peta, dan pola; 6) Kegiatan-kegiatan metrik: Melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari, dan berkebun; 7)  Kegiatan-kegiatan mental: Merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, melihat hubungan-hubungan, dan membuat keputusan; 8)  Kegiatan-kegiatan emosional: minat, membedakan, berani, tenang, dan lain-lain.
Adapun keaktifan belajar siswa yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah: 1) Mengerjakan soal; 2) Mengajukan pertanyaan; 3) Menanggapi pertanyaan; 4) Presentasi; 5) Memberikan solusi.

Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran Kooperatif merupakan strategi pembelajaran melalui kelompok kecil siswa yang saling bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.(Depdiknas, 2003). Sedangkan menurut Suprijono, Agus (2010) “Model pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru”. Ada empat unsur pentingyaitu: (l) adanya peserta dalam kelompok, (2) adanya aturan kelompok, (3) adanya upaya belajar setiap anggota kelompok dan (4) adanya tujuan yang harus dicapai. (Slavin, 2010).

Dari beberapa pengertian menurut para ahli dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah cara belajar dalam bentuk kelompok-kelompok kecil yang saling bekerjasama dan diarahkan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan”. Ini berarti bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja kelompok-kelompok kecil berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar.

Model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang dalam pelaksanaannya mengedepankan pemanfaatan kelompok-kelompok siswa. Prinsip yang harus dipegang teguh dalam kaitan dengan kelompok kooperatif adalah setiap siswa yang ada dalam suatu kelompok harus mempunyai tingkat kemampuan yang heterogen (tinggi, sedang dan rendah) dan bila perlu mereka harus berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta mempertimbangkan kesetaraan gender. Model pembelajaran kooperatif bertumpu pada kooperasi (kerjasama) saat menyelesaikan permasalahan belajar yaitu dengan menerapkan pengetahuan dan keterampilan sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai. Sebuah model pembelajaran dicirikan oleh adanya struktur tugas belajar, struktur tujuan pembelajaran dan struktur penghargaan (reward). Dalam kaitan dengan model pembelajaran kooperatif, maka tentu saja struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan pada model pembelajaran ini tidak sama dengan struktur tugas, struktur tujuan serta struktur penghargaan model pembelajaran yang lain.
Pembelajaran Kooperatif NHT
Struktur Numbered-Head-Together (NHT) biasanya juga disebut berpikir secara berkelompok adalah suatu pendekatan yang dikembangkan oleh Russ Frank. Huda (2014). NHT digunakan untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Sebagai gantinya mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas. Menurut Suyatno(2009), langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut:1) Mengarahkan; 2) Membuat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu; 3) memberikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa, tiap siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok; 4) Mempresentasikan hasil kerja kelompok dengan nomor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas; 5) Mengadakan kuis individual dan membuat skor perkembangan tiap siswa; 6) Mengumumkan hasil kuis dan memberikan reward.

 Model Pembelajaran Topi Pintar
Ciri dari model pembelajaran kooperatif adalah tim belajar. Menurut Melvin (2014), strategi pembentukan kelompok sangat menentukan kesuksesan suatu tim. Seorang guru harus memberi kesempatan dan memfasilitasi siswa untuk membangun semangat tim dengan sebuah kelompok yang sudah kenal satu sama lain.  Di jaman sekarang siswa sangat terbiasa dengan tayangan pembuka tertentu yang sudah populer sehingga hal itu tidak membuat mereka antusias. Cobalah untuk bereksperimen dengan strategi-strategi yang masih baru baik bagi guru maupun bagi siswa.
Berdasarkan pemikiran itu, penulis mencoba memodifikasi suatu model pembelajaran kooperatif yang baru, yang sesuai dengan karakteristik siswa di sekolah penulis dan diberi nama model pembelajaran topi pintar. Model pembelajaran “topi pintar” merupakan modifikasi dari model pembelajaran kooperatif tipe number head together (NHT). Adapun langkah-langkah pelaksanaannya sebagai berikut: 1) Guru membagi kelompok belajar yang heterogen terdiri dari 5-6 siswa; 2) Setiap siswa diberi nomor urut (sesuai tingkat kemampuan siswa dalam pembelajaran matematika menurut guru matematika di kelas itu) yang dituliskan pada topi buatan kelompok masing-masing;  3) Setiap kelompok memberi nama kelompoknya dari unsur-unsur matematika dan membuat yel-yel yang akan ditampilkan bagi kelompok dengan skor tertinggi; 4) Guru menyampaikan tujuan, materi dan tugas berupa soal-soal dalam jumlah yang relatif banyak; 5) Setiap  kelompok melaporkan jumlah soal yang telah diselesaikan; 6) Kelompok yang tampil presentasi sesuai urutan banyak soal yang dikerjakan; 7) Skor yang diberikan pada kelompok yang tampil sesuai dengan nomor topinya dikali sepuluh (atau sesuai dengan kesepakatan antara guru dan siswa); 8) Nomor soal  yang dipresentasikan ditentukan oleh guru, misalnya menggunakan kalimat” selesaikan soal dengan nomor terbesar sesuai dengan hasil yang dilaporkan”; 9) Kelompok lain yang mengajukan pertanyaan atau menanggapi mendapat skor yang sama dengan kelompok penampil; 10) Kelompok yang memperoleh skor tertinggi berhak untuk menampilkan yel-yelnya sebagai bentuk penghargaan yang pertama. Setelah selesai satu siklus atau satu penelitian, diberikan juga reward untuk kelompok yang mendapat predikat terbaik.    
   
Kriteria Keberhasilan
Penelitian ini dikatakan berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat kategori aktif atau sangat aktif mencapai  70 . Dengan kata lain bahwa 70  atau lebih siswa sudah berpartisipasi melakukan aktivitas dalam pembelajaran.

Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori,  hipotesis penelitian tindakan kelas ini adalah “Melalui pembelajaran kooperatif topi pintar, keaktifan belajar matematika siswa kelas  XI IPA  SMA Negeri 15 Palembang dapat ditingkatkan


 Setting Penelitian 
Penelitian akan dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2014/2015. Subjek penelitian   adalah  siswa   kelas  XI IPA.6   SMA  Negeri  15  Palembang   yang berjumlah 34 siswa, terdiri dari 12  laki-laki dan 22 perempuan.

Metode Penelitian 
Metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2007). Metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode classroom action research atau penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas adalah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis reflektif terhadap berbagai “aksi” atau tindakan yang dilakukan oleh guru/peneliti, mulai dari perencanaan sampai dengan penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan belajar-mengajar untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan (Depdiknas, 2003).
Desain Penelitian
Penelitian tindakan memiliki desain yang berupa daur spiral dengan empat langkah utama, yaitu: perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Dari desain penelitian di bawah ini tampak bahwa penelitian tindakan merupakan proses perbaikan secara terus menerus dari suatu tindakan yang masih mengandung kelemahan sebagaimana hasil refleksi yang menuju ke arah yang semakin sempurna. 
Prosedur Penelitian
Permasalahan
Mencari informasi untuk mengenali dan mengetahui kesulitan belajar siswa kelas XI IPA SMA Negeri 15 Palembang.  
Perencanaan Tindakan Siklus I
a.   Penulis melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang akan disampaikan kepada siswa.
b.    Mempersiapkan rencana pembelajaran berupa RPP.
i.       Membentuk kelompok belajar yang terdiri dari 6 orang dengan nomor 1, 2, 3, 4,
      5, dan 6.
ii.    Setiap kelompok memberi nama kelompoknya serta menyiapkan yel-yel.
iii.  Siswa mengerjakan tugas secara individu.
iv.  Siswa membahas masalah dalam kelompok.
v.    Siswa  mempresentasikan  hasil  diskusi  kelompoknya, skor diberikan berdasarkan nomor pada topi.
vi.  Siswa mengerjakan kuis secara individu.

c.    Mempersiapkan lembar observasi keaktifan belajar siswa.
     Lembar observasi dibuat untuk melihat keaktifan siswa sebagaimana ditunjukkan
     tabel berikut.
Tabel.1. Lembar Observasi Keaktifan Belajar Siswa
No
Nama Siswa
Aktivitas Siswa Yang Nampak
1
2
3
4
5
1






2






3






4






...






Keterangan:            
Aktivitas :1) Mengerjakan soal; 2) Mengajukan pertanyaan; 3) Menanggapi pertanyaan;
                4) Presentasi; 5) Memberikan solusi.  
3.   Pelaksanaan Tindakan Siklus I
     Melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah disiapkan.
4.   Pengamatan/Pengumpulan Data Siklus I
Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Data yang dikumpulkan pada tahap ini berisi tentang pelaksanaan tindakan dan rencana yang sudah dibuat serta dampaknya terhadap proses dan hasil instruksional yang dikumpulkan dengan alat bantu lembar pengamatan.
5.   Refleksi Siklus I
Hasil yang diperoleh dalam tahap pengamatan dikumpulkan serta dianalisis. Dari hasil analisis, penulis dapat merefleksi diri, apakah kegiatan yang telah dilakukan sudah ada peningkatan, dan dimana kekurangan yang harus diperbaiki.
6.   Revisi Tindakan Siklus I
Dari hasil Refleksi siklus I dilakukan Perencanaan Tindakan siklus II, Pelaksanaan Tindakan silkus II, Pengamatan/Pengumpulan Data siklus II, Refleksi siklus II dan seterusnya sampai skenario pembelajaran dapat diselesaikan.

Teknik Pengumpulan Data
Lembar observasi diberikan penilaian untuk setiap aktivitas dengan rincian sebagai berikut.
                            Tabel. 2.  Skor Keaktifan Siswa
No.
Aktivitas Siswa
Banyak Aktivitas
Skor
1.
Mengerjakan Soal
X  20%
1
20%  X  40%
2
40%  X  60%
3
60%  X  80%
4
80%  X  100%
5
2.
Mengajukan Pertanyaan
0
1
1
2
2
3
3
4
4
5
3.
Menjawab Pertanyaan
0
1
1
2
2
3
3
4
4
5
4.
Presentasi
0
1
1
2
2
3
3
4
4
5
5.
Memberi Solusi
0
1
1
2
2
3
3
4
4
5
                                                                                                                                                                                  
Skor maksimum 5 x 5 = 25,  sedang skor minimum 5 x1 = 5, sehingga interval skor rata-rata keaktifan siswa adalah 25 – 5 = 20. Penulis membagi interval menjadi 4 selang dengan jarak masing-masing 4,99.

Tabel. 3. Tingkat Aktivitas Siswa
Skor Aktivitas Siswa
Kategori
21      -     25
Sangat Aktif
    15      -     20,9
Aktif
    10     -     14,9
Cukup Aktif
    5      -      9,9
Kurang Aktif
                                                                      (Modifikasi Djaali, 2008)

Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa  data kualitatif yang diperoleh  dari hasil     observasi, kemudian dianalisis setiap akhir pertemuan disetiap siklus. Seperti ditunjukkan tabel berikut.
Tabel. 4  .  Analisis Data Hasil Observasi
Kategori Keaktifan Siswa
Pertemuan 1
Pertemuan 2
Keterangan
Jumlah Siswa
Jumlah Siswa
Kurang   Aktif





Cukup  Aktif





Aktif





Sangat  Aktif





                              
 Rencana Pelaksanaan Penelitian
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahapan ini dilakukan dalam bentuk tahapan-tahapan yang dalam penelitian ini disebut siklus. Pada tahapan atau siklus dibuat fase perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/ observasi dan refleksi. Penelitian ini mempunyai rencana kegiatan sebagai berikut:
Kegiatan
Bulan (Tahun 2015)
April
Mei
Juni
Juli
A.    Tahapan Persiapan:




1.      Menyiapkan RPP, Materi Ajar
x



2.      Menyiapkan Instrumen Ukur
x



B.     Tahap Pelaksanaan:




1.      Pelaksanaan Siklus I




a.       Tahap Perencanaan I

x


b.      Tahap Implementasi Tindakan:




Tindakan 1

x


Tindakan 2

x


Tindakan 3

x


2.      Pelaksanaan Siklus II




a.       Tahap Perencanaan II


x

b.      Tahap Implementasi Tindakan:




Tindakan 1


x

Tindakan 2


x

Tindakan 3


x

C.    Tahap Pelaporan




1.      Tabulasi dan Analisis Data



x
2.      Penyusunan draft hasil penelitian



x
3.      Seminar draft hasil penelitian



x
4.      Penyusunan laporan final



x
5.      Pengiriman laporan



x


DAFTAR PUSTAKA 

Bobbi De Porter dan Mike Hernacki. 2001. Quantum Learning, Membiasakan Belajar
              Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Penerbit Kaifa. 
Depdikbud. 1995.  Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Depdiknas.2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistim 
             Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas
Elliot, J. 1982. Developing Hypothesis about Classrooms from Teachers Practical Constructs: an 
            Account of the Work of the Ford Teaching Project. Dalam The Action Research Reader.
            Geelong, Victoria: Deakin University.
Hamalik, Oemar. 2008. Proses Belajar mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Huda, Miftahul. 2014. Cooperative Learning, Metode, Teknik, Struktur dan Model
             Penerapan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 
Melvin, L. Silberman.2014. Active Learning, 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung:
           Nuansa Cendekia. 
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suprijono, Agus. 2010. Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka
            Pelajar. 
Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar